Suatu hari ada seorang pria yang bernama Parno yang berprofesi sebagai
guru masak. Dia memiliki murid perempuan yang bernama Dewi. Parno
mengajari Dewi tentang memasak ala sea food.
Lalu Dewi bertanya,
"Hewan apa yang sangat baik untuk dimakan namun mencarinya gampang?"
Dan Parno pun menjawab, "Teripang."
"Di mana saya bisa mendapatkan teripang?" tanya Dewi.
Parno menjawab, "Di pantai."
Lalu mereka pergi ke pantai untuk mencari teripang. Saat itu keadaan
sangat mendukung pencarian mereka karena air laut sedang surut. tapi ada
1 masalah. Mereka lupa membawa pakaian rekang, maka dari itu Parno
menyarankan agar mereka melepas pakaian mereka agar bisa dipakai lagi di
dapur.
Sekian lama mereka tidak mendapatkan teripang. Lalu, Dewi bertanya, "bentuk teripang seperti apa?"
Lalu Parno menjawab "Lonjong, berurat, dan panjang."
Tidak lama kemudian... "SAYA DAPAT!"
(Dewi memegang barang milik Parno dan menariknya ke atas)
There are mysteries to the universe we were never meant to solve. But who we are and why we are here, are not among them. Those answers we carry inside. An this message is for all of you..
Jumat, 08 Agustus 2014
What this is??
Seorang wanita cantik dan sexy terjatuh dari lantai 80 sebuah gedung
megah. Untunglah di lantai 70, ada seorang Pria Amerika menangkapnya.
Wanita : “Terima kasih anda telah menolong saya….”
Pria Amerika : “Sama-sama, tapi Anda harus membalas budi”
Wanita : “Bagaimana caranya ?”
Pria Amerika : “Tidurlah denganku…..”
Wanita : “Bajingan kau, TIDAK MAU !!!”
Pria Amerika : “Ya sudah kalau nggak mau…” Pria Amerika kemudian melepaskannya dan wanita itu kembali terjatuh….
Di lantai 50, seorang Pria Prancis berhasil menangkapnya.
Wanita : “Terima kasih anda telah menolong saya….”
Pria Prancis : “Sama-sama, tapi Anda harus membalas budi”
Wanita : “Bagaimana caranya ?” Pria Prancis : “Tidurlah denganku…..”
Wanita : “** SENSOR ** kamu, TIDAK MAU !!!”
Pria Prancis : “Ya sudah kalau tidak mau…” Pria Prancis kemudian melepaskannya dan wanita itu kembali terjatuh…
Lantai 45 lewat, lantai 40 lewat, lantai 35 lewat dan tidak ada lagi yang menangkapnya. Si wanita mulai menyesal.
Akhirnya dia memutuskan kalau ada lagi pria yang menangkapnya, ia mau diajak tidur bareng. Daripada mati, pikirnya.
Akhirnya di lantai 20, seorang Pria Arab menangkapnya. Buru-buru wanita itu berkata :
Wanita : “Terima kasih anda telah menolong saya. Sebagai balas jasa, Anda boleh tidur dengan saya…”
Pria Arab : ” Astaghfirullah !!!!!”
Lalu Pria Arab itu melepaskannya kembali…
Wanita : “Terima kasih anda telah menolong saya….”
Pria Amerika : “Sama-sama, tapi Anda harus membalas budi”
Wanita : “Bagaimana caranya ?”
Pria Amerika : “Tidurlah denganku…..”
Wanita : “Bajingan kau, TIDAK MAU !!!”
Pria Amerika : “Ya sudah kalau nggak mau…” Pria Amerika kemudian melepaskannya dan wanita itu kembali terjatuh….
Di lantai 50, seorang Pria Prancis berhasil menangkapnya.
Wanita : “Terima kasih anda telah menolong saya….”
Pria Prancis : “Sama-sama, tapi Anda harus membalas budi”
Wanita : “Bagaimana caranya ?” Pria Prancis : “Tidurlah denganku…..”
Wanita : “** SENSOR ** kamu, TIDAK MAU !!!”
Pria Prancis : “Ya sudah kalau tidak mau…” Pria Prancis kemudian melepaskannya dan wanita itu kembali terjatuh…
Lantai 45 lewat, lantai 40 lewat, lantai 35 lewat dan tidak ada lagi yang menangkapnya. Si wanita mulai menyesal.
Akhirnya dia memutuskan kalau ada lagi pria yang menangkapnya, ia mau diajak tidur bareng. Daripada mati, pikirnya.
Akhirnya di lantai 20, seorang Pria Arab menangkapnya. Buru-buru wanita itu berkata :
Wanita : “Terima kasih anda telah menolong saya. Sebagai balas jasa, Anda boleh tidur dengan saya…”
Pria Arab : ” Astaghfirullah !!!!!”
Lalu Pria Arab itu melepaskannya kembali…
Selasa, 03 Juni 2014
History Of "Indonesia Raya" lyrics
Original lyrics (1928)
INDONESIA RAJA
Wage Rudolf SupratmanI
Indonesia, tanah airkoe,
Tanah toempah darahkoe,
Disanalah akoe berdiri,
Mendjaga Pandoe Iboekoe.
- Indonesia kebangsaankoe,
- Kebangsaan tanah airkoe,
- Marilah kita berseroe:
- "Indonesia Bersatoe".
Hidoeplah neg'rikoe,
Bangsakoe, djiwakoe, semoea,
Bangoenlah rajatnja,
Bangoenlah badannja,
Oentoek Indonesia Raja.
- Refrain :
- Indones', Indones',
- Moelia, Moelia,
- Tanahkoe, neg'rikoe jang koetjinta.
- Indones', Indones',
- Moelia, Moelia,
- Hidoeplah Indonesia Raja.
Indonesia, tanah jang moelia,
Tanah kita jang kaja,
Disanalah akoe hidoep,
Oentoek s'lama-lamanja.
- Indonesia, tanah poesaka,
- Poesaka kita semoeanja,
- Marilah kita berseroe:
- "Indonesia Bersatoe".
Soeboerlah djiwanja,
Bangsanja, rajatnja, semoea,
Sedarlah hatinja,
Sedarlah boedinja,
Oentoek Indonesia Raja.
- Refrain
Indonesia, tanah jang soetji,
Bagi kita disini,
Disanalah kita berdiri,
Mendjaga Iboe sedjati.
- Indonesia, tanah berseri,
- Tanah jang terkoetjintai,
- Marilah kita berdjandji:
- "Indonesia Bersatoe"
S'lamatlah poet'ranja,
Poelaoenja, laoetnja, semoea,
Madjoelah neg'rinja,
Madjoelah Pandoenja,
Oentoek Indonesia Raja.
Revised lyrics (1958)
INDONESIA RAJA(Republic Spelling)
I
Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Disanalah aku berdiri,
Djadi pandu ibuku.
- Indonesia kebangsaanku,
- Bangsa dan tanah airku,
- Marilah kita berseru,
- Indonesia bersatu.
Hiduplah neg'riku,
Bangsaku, Rajatku, sem'wanja,
Bangunlah djiwanja,
Bangunlah badannja,
Untuk Indonesia Raja.
- Refrain :
- Indonesia Raja,
- Merdeka, merdeka,
- Tanahku, neg'riku jang kutjinta!
- Indonesia Raja,
- Merdeka, merdeka,
- Hiduplah Indonesia Raja!
Indonesia, tanah jang mulia,
Tanah kita jang kaja,
Disanalah aku berdiri,
Untuk s'lama-lamanja.
- Indonesia, tanah pusaka,
- P'saka kita semuanja,
- Marilah kita mendoa,
- Indonesia bahagia.
Suburlah djiwanja,
Bangsanja, Rajatnja, sem'wanja,
Sadarlah hatinja,
Sadarlah budinja,
Untuk Indonesia Raja.
- Refrain
Indonesia, tanah jang sutji,
Tanah kita jang sakti,
Disanalah aku berdiri,
Ndjaga ibu sejati.
- Indonesia, tanah berseri,
- Tanah jang aku sajangi,
- Marilah kita berdjandji,
- Indonesia abadi.
S'lamatlah putranja,
Pulaunja, lautnja, sem'wanja,
Madjulah Neg'rinja,
Madjulah pandunja,
Untuk Indonesia Raja.
Current lyrics
INDONESIA RAYA
(Perfected Spelling)I
Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.
- Indonesia kebangsaanku,
- Bangsa dan tanah airku,
- Marilah kita berseru,
- Indonesia bersatu.
Hiduplah negeriku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.
- Refrain :
- Indonesia Raya,
- Merdeka, merdeka,
- Tanahku, neg'riku yang kucinta!
- Indonesia Raya,
- Merdeka, merdeka,
- Hiduplah Indonesia Raya!
Indonesia, tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya,
Di sanalah aku berdiri,
Untuk selama-lamanya.
- Indonesia, tanah pusaka,
- Pusaka kita semuanya,
- Marilah kita mendoa,
- Indonesia bahagia.
Suburlah jiwanya,
Bangsanya, Rakyatnya, semuanya,
Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya.
- Refrain
Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
N'jaga ibu sejati.
- Indonesia, tanah berseri,
- Tanah yang aku sayangi,
- Marilah kita berjanji,
- Indonesia abadi.
Selamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Negerinya,
Majulah pandunya,
Untuk Indonesia Raya.
Selasa, 20 Mei 2014
Cermati, Pahami, Resapi..
Kisah Gadis Kecil Yang Shalihah
Aku akan meriwayatkan kepada anda kisah yang sangat berkesan ini, seakan-akan anda mendengarnya langsung dari lisan ibunya.
Berkatalah ibu gadis kecil tersebut:
Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku melihat sebuah mimpi di
dalam tidurnya. Ia melihat banyak burung pipit yang terbang di angkasa.
Di antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yang
sangat cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanya kepada
ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku
bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dan sesungguhnya
aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan
tafsirnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi
tersebut.
Setelah itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benar
seorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita yang
shalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidak juga
mengenakan pakaian pendek, dia akan menolak dengan keras, padahal dia
masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka ia mengenakan
celana panjang di balik rok tersebut.
Afnan senantiasa menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah.
Setelah dia menduduki kelas 4 SD, dia semakin menjauh dari segenap
perkara yang membuat murka Allah. Dia menolak pergi ke tempat-tempat
permainan, atau ke pesta-pesta walimah. Dia adalah seorang gadis yang
perpegang teguh dengan agamanya, sangat cemburu di atasnya, menjaga
shalat-shalatnya, dan sunnah-sunnahnya. Tatkala dia sampai SMP mulailah
dia berdakwah kepada agama Allah. Dia tidak pernah melihat sebuah
kemungkaran kecuali dia mengingkarinya, dan memerintah kepada yang
ma'ruf, dan senantiasa menjaga hijabnya.
Permulaan dakwahnya kepada agama Allah adalah permulaan masuk Islamnya pembantu kami yang berkebangsaan Srilangka.
Ibu Afnan melanjutkan ceritanya:
Tatkala aku mengandung putraku, Abdullah, aku terpaksa mempekerjakan
seorang pembantu untuk merawatnya saat kepergianku, karena aku adalah
seorang karyawan. Ia beragama Nasrani. Setelah Afnan mengetahui bahwa
pembantu tersebut tidak muslimah, dia marah dan mendatangiku seraya
berkata: "Wahai ummi, bagaimana dia akan menyentuh pakaian-pakaian kita,
mencuci piring-piring kita, dan merawat adikku, sementara dia adalah
wanita kafir?! Aku siap meninggalkan sekolah, dan melayani kalian selama
24 jam, dan jangan menjadikan wanita kafir sebagai pembantu kita!!"
Aku tidak memperdulikannya, karena memang kebutuhanku terhadap
pembantu tersebut amat mendesak. Hanya dua bulan setelah itu, pembantu
tersebut mendatangiku dengan penuh kegembiraan seraya berkata: "Mama,
aku sekarang menjadi seorang muslimah, karena jasa Afnan yang terus
mendakwahiku. Dia telah mengajarkan kepadaku tentang Islam." Maka akupun
sangat bergembira mendengar kabar baik ini.
Saat Afnan duduk di kelas 3 SMP, pamannya memintanya hadir dalam
pesta pernikahannya. Dia memaksa Afnan untuk hadir, jika tidak maka dia
tidak akan ridha kepadanya sepanjang hidupnya. Akhirnya Afnan menyetujui
permintaannya setelah ia mendesak dengan sangat, dan juga karena Afnan
sangat mencintai pamannya tersebut.
Afnan bersiap untuk mendatangi pernikahan itu. Dia mengenakan sebuah
gaun yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia adalah seorang gadis yang
sangat cantik. Setiap orang yang melihatnya akan terkagum-kagum dengan
kecantikannya. Semua orang kagum dan bertanya-tanya, siapa gadis ini?
Mengapa engkau menyembunyikannya dari kami selama ini?
Setelah menghadiri pernikahan pamannya, Afnan terserang kanker tanpa
kami ketahui. Dia merasakan sakit yang teramat sakit pada kakinya. Dia
menyembunyikan rasa sakit tersebut dan berkata: "Sakit ringan di
kakiku." Sebulan setelah itu dia menjadi pincang, saat kami bertanya
kepadanya, dia menjawab: "Sakit ringan, akan segera hilang insya Allah."
Setelah itu dia tidak mampu lagi berjalan. Kamipun membawanya ke rumah
sakit.
Selesailah pemeriksaan dan diagnosa yang sudah semestinya. Di dalam
salah satu ruangan di rumah sakit tersebut, sang dokter berkebangsaan
Turki mengumpulkanku, ayahnya, dan pamannya. Hadir pula pada saat itu
seorang penerjemah, dan seorang perawat yang bukan muslim. Sementara
Afnan berbaring di atas ranjang.
Dokter mengabarkan kepada kami bahwa Afnan terserang kanker di
kakinya, dan dia akan memberikan 3 suntikan kimiawi yang akan
merontokkan seluruh rambut dan alisnya. Akupun terkejut dengan kabar
ini. Kami duduk menangis. Adapun Afnan, saat dia mengetahui kabar
tersebut dia sangat bergembira dan berkata: "Alhamdulillah…
alhamdulillah… alhamdulillah." Akupun mendekatkan dia di dadaku
sementara aku dalam keadaan menangis. Dia berkata: "Wahai ummi,
alhamdulillah, musibah ini hanya menimpaku, bukan menimpa agamaku."
Diapun bertahmid memuji Allah dengan suara keras, sementara semua orang melihat kepadanya dengan tercengang!!
Aku merasa diriku kecil, sementara aku melihat gadis kecilku ini
dengan kekuatan imannya dan aku dengan kelemahan imanku. Setiap orang
yang bersama kami sangat terkesan dengan kejadian ini dan kekuatan
imannya. Adapun penerjamah dan para perawat, merekapun menyatakan
keislamannya!!
Berikutnya adalah perjalanan dia untuk berobat dan berdakwah kepada Allah.
Sebelum Afnan memulai pengobatan dengan bahan-bahan kimia, pamannya
meminta akan menghadirkan gunting untuk memotong rambutnya sebelum
rontok karena pengobatan. Diapun menolak dengan keras. Aku mencoba untuk
memberinya pengertian agar memenuhi keinginan pamannya, akan tetapi dia
menolak dan bersikukuh seraya berkata: "Aku tidak ingin terhalangi dari
pahala bergugurannya setiap helai rambut dari kepalaku."
Kami (aku, suamiku dan Afnan) pergi untuk yang pertama kalinya ke
Amerika dengan pesawat terbang. Saat kami sampai di sana, kami disambut
oleh seorang dokter wanita Amerika yang sebelumnya pernah bekerja di
Saudi selama 15 tahun. Dia bisa berbicara bahasa Arab. Saat Afnan
melihatnya, dia bertanya kepadanya: "Apakah engkau seorang muslimah?"
Dia menjawab: "Tidak."
Afnanpun meminta kepadanya untuk mau pergi bersamanya menuju ke
sebuah kamar yang kosong. Dokter wanita itupun membawanya ke salah satu
ruangan. Setelah itu dokter wanita itu kemudian mendatangiku sementara
kedua matanya telah terpenuhi linangan air mata. Dia mengatakan bahwa
sesungguhnya sejak 15 tahun dia di Saudi, tidak pernah seorangpun
mengajaknya kepada Islam. Dan di sini datang seorang gadis kecil yang
mendakwahinya. Akhirnya dia masuk Islam melalui tangannya.
Di Amerika, mereka mengabarkan bahwa tidak ada obat baginya kecuali
mengamputasi kakinya, karena dikhawatirkan kanker tersebut akan menyebar
sampai ke paru-paru dan akan mematikannya. Akan tetapi Afnan sama
sekali tidak takut terhadap amputasi, yang dia khawatirkan adalah
perasaan kedua orang tuanya.
Pada suatu hari Afnan berbicara dengan salah satu temanku melalui
Messenger. Afnan bertanya kepadanya: "Bagaimana menurut pendapatmu,
apakah aku akan menyetujui mereka untuk mengamputasi kakiku?" Maka dia
mencoba untuk menenangkannya, dan bahwa mungkin bagi mereka untuk
memasang kaki palsu sebagai gantinya. Maka Afnan menjawab dengan satu
kalimat: "Aku tidak memperdulikan kakiku, yang aku inginkan adalah
mereka meletakkanku di dalam kuburku sementara aku dalam keadaan
sempurna." Temanku tersebut berkata: "Sesungguhnya setelah jawaban
Afnan, aku merasa kecil di hadapan Afnan. Aku tidak memahami sesuatupun,
seluruh pikiranku saat itu tertuju kepada bagaimana dia nanti akan
hidup, sedangkan fikirannya lebih tinggi dari itu, yaitu bagaimana nanti
dia akan mati."
Kamipun kembali ke Saudi setelah kami amputasi kaki Afnan, dan tiba-tiba kanker telah menyerang paru-paru!!
Keadaannya sungguh membuat putus asa, karena mereka meletakkannya di
atas ranjang, dan di sisinya terdapat sebuah tombol. Hanya dengan
menekan tombol tersebut maka dia akan tersuntik dengan jarum bius dan
jarum infus.
Di rumah sakit tidak terdengar suara adzan, dan keadaannya seperti
orang yang koma. Tetapi hanya dengan masuknya waktu shalat dia terbangun
dari komanya, kemudian meminta air, kemudian wudhu` dan shalat, tanpa
ada seorangpun yang membangunkannya!!
Di hari-hari terakhir Afnan, para dokter mengabari kami bahwa tidak
ada gunanya lagi ia di rumah sakit. Sehari atau dua hari lagi dia akan
meninggal. Maka memungkinkan bagi kami untuk membawanya ke rumah. Aku
ingin dia menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah ibuku.
Di rumah, dia tidur di sebuah kamar kecil. Aku duduk di sisinya dan berbicara dengannya.
Pada suatu hari, istri pamannya datang menjenguk. Aku katakan bahwa
dia berada di dalam kamar sedang tidur. Ketika dia masuk ke dalam kamar,
dia terkejut kemudian menutup pintu. Akupun terkejut dan khawatir
terjadi sesuatu pada Afnan. Maka aku bertanya kepadanya, tetapi dia
tidak menjawab. Maka aku tidak mampu lagi menguasai diri, akupun pergi
kepadanya. Saat aku membuka kamar, apa yang kulihat membuatku
tercengang. Saat itu lampu dalam keadaan dimatikan, sementara wajah
Afnan memancarkan cahaya di tengah kegelapan malam. Dia melihat kepadaku
kemudian tersenyum. Dia berkata: "Ummi, kemarilah, aku mau menceritakan
sebuah mimpi yang telah kulihat." Kukatakan: "(Mimpi) yang baik Insya
Allah." Dia berkata: "Aku melihat diriku sebagai pengantin di hari
pernikahanku, aku mengenakan gaun berwarna putih yang lebar. Engkau, dan
keluargaku, kalian semua berada disekelilingku. Semuanya berbahagia
dengan pernikahanku, kecuali engkau ummi."
Akupun bertanya kepadanya: "Bagaimana menurutmu tentang tafsir
mimpimu tersebut." Dia menjawab: "Aku menyangka, bahwasannya aku akan
meninggal, dan mereka semua akan melupakanku, dan hidup dalam kehidupan
mereka dalam keadaan berbahagia kecuali engkau ummi. Engkau terus
mengingatku, dan bersedih atas perpisahanku." Benarlah apa yang
dikatakan Afnan. Aku sekarang ini, saat aku menceritakan kisah ini, aku
menahan sesuatu yang membakar dari dalam diriku, setiap kali aku
mengingatnya, akupun bersedih atasnya.
Pada suatu hari, aku duduk dekat dengan Afnan, aku, dan ibuku. Saat
itu Afnan berbaring di atas ranjangnya kemudian dia terbangun. Dia
berkata: "Ummi, mendekatlah kepadaku, aku ingin menciummu." Maka diapun
menciumku. Kemudian dia berkata: "Aku ingin mencium pipimu yang kedua."
Akupun mendekat kepadanya, dan dia menciumku, kemudian kembali berbaring
di atas ranjangnya. Ibuku berkata kepadanya: "Afnan, ucapkanlah la
ilaaha illallah."
Maka dia berkata: "Asyhadu alla ilaaha illallah."
Kemudian dia menghadapkan wajah ke arah qiblat dan berkata: "Asyhadu
allaa ilaaha illallaah." Dia mengucapkannya sebanyak 10 kali. Kemudian
dia berkata: "Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadan
rasuulullaah." Dan keluarlah rohnya.
Maka kamar tempat dia meninggal di dalamnya dipenuhi oleh aroma
minyak kasturi selama 4 hari. Aku tidak mampu untuk tabah, keluargaku
takut akan terjadi sesuatu terhadap diriku. Maka merekapun meminyaki
kamar tersebut dengan aroma lain sehingga aku tidak bisa lagi mencium
aroma Afnan. Dan tidak ada yang aku katakan kecuali alhamdulillahi
rabbil 'aalamin. (AR)*
Senin, 28 April 2014
Subhanallah.. :')
Ada seorang ibu ingin meminjam uang dari anaknya yang telah mapan. Dengan suara direndahkan terdengar sayup-sayup disertai rasa malu ia berkata : "Nak, bolehkah ibu meminjam uang 1.000.000? Ibu ada perlu...". Anaknya tidak langsung menjawab, dengan raut muka datar ia berkata: "Iya Ma, nanti saya tanya istri dulu?", seakan berat untuk mengiyakan. Ketika akan beranjak pergi ia melihat dus susu anaknya dan masih ada bandrol harga Rp 50.000, kemudian dia merenung. Jika 1 dus habis 1 hari x 30 hari x 2 th = 36 jt. Dia berfikir susu paling baik untuk anak adalah ASI harganya tak terhingga, super steril, diberikan dengan penuh kasih sayang jika didapat oleh seorang anak selama 2 tahun berapa yang harus ia bayar?? Kemudian ia berbalik dan menatap wajah ibunya yang teduh walau telah dimakan usia. Ibu, dirimu telah memberikan semua kasih sayang, harta dan semuanya tanpa pamrih, gratis. Maafkan anak durhaka ini yang tidak tahu balas budi dan aku tahu aku tak mampu membalas kebaikanmu. Segera ia mendatangi ibunya dan memeluknya, mengecup keningnya dan memberikan uang Rp 3 jt di dompetnya dan berkata: "Ma, jangan berkata pinjam lagi, hartaku adalah milikmu, do'akan anakmu ini agar selalu berbakti padamu". Sambil berkaca-kaca ada air bening di pelupuk mata ibu ia berkata: "Nak, di setiap keadaan Mama selalu berdo'a agar kita semua selalu dikumpulkan di dunia dan di SyurgaNya nanti dalam kebahagian, Aamiin2 Ya Robbal aalamiin. Semoga Bermanfaat.(Jangan biarkan bacaan bermakna ini mengendap,jdkan ladang pahala dg meberikan ke orang lain, Dan bagi PARA ISTRI ingatlah bhw rizki dr suamimu adalah jg HAK mertuamu.Minggu, 02 Maret 2014
Mysterious Story based on Real
Ketika Hendak Pulang Kampung
Oleh : Syarif Hidayat
Pagi itu sangat cerah di depan halaman
rumahku, burung-burung berkicau dengan riangnya, bercanda bersama tanpa ada
rasa benci. Saat itu juga aku mulai bersiap-siap mandi, kemudian sarapan.
Setelah itu aku mulai bersiap berangkat ke terminal untuk pergi ke rumah nenek
ku, sendirian. Tentu bukan masalah bagiku untuk pergi sendiri, toh aku juga
sudah besar, mampu melindungi diri sendiri.
Keadaan terminal pagi ini cukup ramai, dan
seperti terminal pada umumnya terdengar suara khas para kernet bus “Pekalongan..
Pekalongan”.. ”Solo.. Salatiga”.. ”Purwokerto.. Purwokerto”.. Selain itu juga
banyak pedagang yang sontak berteriak “Yak, cemilan, cemilan, cemilan murah Pak
Bu, seribu dapet satu”. Luar biasa banyak orang di Terminal ini, mengingat ini
musim Liburan Panjang para anak sekolahan, begitu juga aku.
Tanpa menunggu lama aku beli tiket dan
menghampiri bus jurusan kota nenekku, Kebumen. Aku duduk menunggu bus
berangkat. Seperti biasa, sebelum berangkat ada beberapa pedagand asongan yang
menjajakan dagangannya. Akupun beli beberapa cemilan untuk teman perjalananku
nanti. Setelah menunggu sekita lima belas menit bebrapa orang datang, bus pun
menjadi penuh sekarang. Tanpa menunggu lama bus pun berangkat. Ditandai dengan
klakson bus yang berbunyi nyaring. “Tuuuiiinn..”
Perjalananku dimulai dari sini. Kunikmati sepanjang
jalan yang masih masuk area Tanggerang ini dengan makan cemilan dan
mendengarkan musik religi untuk pencerahan hati. Setelah beberapa jam
perjalanan jalan utama pun macet. Maklum masa Liburan Panjang. Hari mulai sore,
namun bus ini masih sampai daerah pekalongan. Karna macet Kondektur bus ini
melewati daerah alternatif, masuk ke daerah hutan-hutan yang minim penerangan
jalan.
Hari menunjukan waktu Maghrib, namun keadaan jalan masih di dalam hutan
belantara. Terpaksa kami melewatkan ibadah sholat Maghrib. Kulihat di arlojiku
jam menunjukan jam setegah delapan malam. Dan kami belum sampai di tempat
peristirahatan bus. Bus masih tetap melaju dengan kecepatan rata-rata. Hingga waktu
menunjukan pukul sembilan malam. Anehnya kami semua para penumpang terasa segar
bugar dan belum ngantuk.
Kejadian aneh mulai muncul. Ada bintang jatuh
tepat di depan bus. Sontak bus berhenti mendadak. Para penumpang berteriak. Sontak
semua orang turun dan berusaha melihat bintang ini. Hal aneh kedua terjadi
ketika ada yang berusaha memfoto bntang ini bintang tersebut tidak nampak dalam
foto. Semua orang bingung. Ini diluar nalar manusia. Bintang yang jelas-jelas
terlihat mata tidak bisa diambil oleh camera. Tiba-tiba ketika ada yang
berusaha memegang bintang ini, malah tembus, seakan-akan bintang ini hologram.
Kami semua bingung dengan benda langit ini.
Namun kondektur berintrogasi kepada para penumpang untuk kembali melanjutkan
perjalanan, karna larut malam. Akupun duduk kembali, berusaha tidur dengan
mendengarkan mp-3ku. Dan bispun mulai nyala mesinnya. Dan ketika mus ingin
menabrak bintang ini, justru malah tembus sontak semua orang menutup mata
ditambah kaget. Namun keajaiban terjadi disini. Setelah bus melewati bintang
ini tiba-tiba bus ini berada tepat di gerbang Selamat Datang Kota Kebumen pada
waktu Subuh. Padahal sebelumnya berada di daerah pekalonagan. Sungguh aneh tapi
sulit dipercaya.
Setelah
sampai di rumah Nenek, kuceritakan kejadian ini pada seluruh keluargaku. Walau ada
beberapa yang setengah percaya. Tapi ini jadi catatan tersendiri untukku. Pengalaman
yang tidak pernah aku lupakan. Selamanya.
Langganan:
Postingan (Atom)


