Dia
Yang Malang
Oleh
: Syarif Hidayat
Rumah Sakit Adhi Rama, itulah tujuanku.
Namun suasana keteka perjalanan bagai melawan tentara peran yang hendak
menyerbu kita. Hujan turun sangat lebat, jalanan gelap bagai melewati gua
kesengsaraan. Aku yang saat itu nbaik motor sendiri seperti harus berjuang
menembus benteng badai yang sangat mengerikan. Aku seperti bekerja keras untuk
sampai ke RS Adhi Rama itu, dimana Ibuku melahirkan adik ke-2 ku.
Akhirnya sampai juga di RS itu, dengan cepat
aku berlari ke lantai 3. Rumah sakit ini ramai bagai pasar, maklum hari ini
hujan lebat yang sangat hebat, banyak orang yang enggan pulang dan memilih
berteduh di depan RS.
Ketika sampai di kamar Ibuku, senang sekali
rasanya dimana saat itu ibuku sedang menyusui adik baruku. Disana ada Ayah dan
Adik pertamaku, juga ada nenek. Akupun mulai menggendng adik baruku, dalam hati
aku berkata “Terima kasih Tuhan, telah memberikanku adik yang sempurna ini.”.
Setelah itu aku hendak buang air kecil,
melewati sebuah kamar yang terbuka pintunya. Ada seseorang yang terbaring
disana. Setelah selesai Buang air kecil, aku kembali kekamar itu, melihat
daftar pasien yang berada disamping pinntu. Namanya tidak asing, persis seperti
temanku, teman lamaku. “Rina Nur Dina” Usia 16 th. Karna penasaran aku masuk
sambil mengucap salam.
Ternyata memang benar dia Rina kawan Sd ku
dulu. “Hai Rina, apa kabar?” sapaku. “Aku sangat baik”, jawabnya. “Kok masih
gendut-gendut aja, kapan kurusnya?”, kataku untuk menghibur dia. “iiihhh...kamu
ya..”, katanya sambil menjiwitku. Syukur dia tersenyum kembali. Aku berusaha
terus menghibur dia agar dia senang.
Setelah puas bercanda aku bertanya, aku
bertanya “Kenapa kamu disini?”. “Aku gak papa kok”, balasnya. Namun karna
penasaran aku lihat penyakitnya di data yang terletak di tempat tidur Rina. “Astaghfirulla
Haladzim...”, aku kaget bukan kepalang, Rina juga kaget. “Kenapa?, Tau tentang
penyakitku ya?”. ”Iya, maaf ya aku gak tau”, ujarku. “Iya gak papa”. Ketika aku
ingin tanya penyebab kenapa Rina menjadi begitu, aku disuruh pulang, karna
urusan Ibuku dan Keluargaku di RS sedah selesai. Jadi aku belum sempat tanya.
Esok harinya saat pulang sekolah, saat di
lampu merah aku liha Rina sedang mengemis sambil membawa alat bantu untuk
berjalan karna kaki kanannya tidak ada. Aku hampiri lalu aku sambung
pertanyaanku yang belum aku tanyakan saat di RS. Lantas dia bercerita....
“Dulu waktu itu, aku pernah tertabrak truck
hingga kakiku harus diamputasi. Namun Orang Tua ku justru cerai saat tau aku
kecelakaan, entah apa sebabnya. Sementara itu semua benda di rumahku serta
rumahku diambil oleh Paman, aku tidak boleh tinggal disana lagi. Paman hanya
membantu proses di RS saja. Mereka semua tidak mau menerima aku karna waktu aku
jadi anak orang kaya aku menyalah-gunakan kekayaan Orang Tuaku, aku juga pernah
pacaran terlalu jauh, Paman takut jika hal yang sma terjadi padanya.”
Mendengar ceritanya aku hanya bisa
geleng-geleng kepala. Lalu naku ucapkan janji kepadanya akan membantunya. Sementara
itu dia hanya mengangguk dengan berlinag air mata. Lantas aku pergi melanjutkan
perjalanan ke rumah.
Sampai dirumah aku ceritakan semua kepada
Orang Tuaku, mereka mengerti. Paginya aku menemui Rina dengan senyum yang
lebar. Aku tanyai dia “Rin, apa cita-citamu?”, dia hanya menjawab “Jadi Pemusik”.
Tidak lama kemudian Orang tuaku datang dengan menggunakan mobil. “Ayo ikut Rin?”,
kataku. “mau kemana?”, tanyanya. “Ayo pokoknya ikut”, jawabku.
Betapa senangnya Rina ketika sampai ke
tempat tujuan. Kita tiba di SLB khusus orang cacat. Dia mengucapkan banyak
terima kasih kepadaku dan kepada Orang Tuaku. Dia juga diberi kursi roda oleh
Orang Tuaku. Dia mulai sungguh-sungguh brlatih musik biola kesukaannya. Dia tidak
lagi bersedih karna memikirkan masa lalunya, kini dia membuka lembaran baru.
Aku senang sekali membantunya, aku juga
berjanji akan belajar sungguh-sungguh, giat dan rajin. Meski aku anak orang
kaya, aku tidak ingin menyalah-gunakan kekayaan Orang Tuaku. Aku juga tidak
ingin pacaran dulu, karna ingin konsentrasi kuliah.
THE
END???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar